Senin, 14 Juni 2010

Studi Kelayakan Usaha

STUDI KELAYAKAN USAHA
A. Pengertian dan Tujuan Studi Kelayakan Usaha
Pengertian Usaha
Pengertian usaha atau proyek adalah kegiatan-kegiatan yang dapat direncanakan dan dilaksanakan dalam suatu bentuk kesatuan dengan menggunakan sumber-sumber untuk mendapatkan manfaat (benefit) dan keuntungan (profit) atas penanaman modal (investasi) yang telah dilakukan.
Kegiatan-kegiatan tersebut dapat berupa investasi baru (misalnya pendirian pabrik perkebunan, irigasi, sekolah) maupun perluasan (ekspansi), perbaikan (restrukturisasi) dari investasi yang telah ada baik yang dilaksanakan oleh perorangan, perusahaan (swasta atau BUMN) dan koperasi.
Sumber-sumber yang digunakan dalam pelaksanaan suatu usaha atau proyek dapat berbentuk sumber daya alam sebagai bahan baku ataupun bahan pembantu (hasil tambang, mineral, fauna, flora), sumber daya energi (air, matahari, angin, panas bumi, minyak dan gas bumi), sumber daya manusia (manajer, tenaga ahli, tenaga terampil, tenaga pekerja), sumber daya modal (modal sendiri, pinjaman, leasing), dan sumber daya teknologi (tinggi, madya, tradisional).
Benefit tersebut dapat berbentuk tingkat konsumsi yang lebih besar, penambahan, kesempatan kerja, perbaikan tingkat pendidikan atau kesehatan dan perubahan/perbaikan suatu system atau struktur. Suatu proyek dapat dinyatakan berakhir bila sudah pasti atau diduga tidak memberikan benefit lagi. Sehingga batasan suatu usaha atau proyek adalah kegiatan yang berkesinambungan dimana:
1. Mempunyai tujuan spesifik yang harus dicapai.
2. Telah ditentukan kapan akan dimulai dan kapan akan berakhir.
3. Telah ditentukan batas biayanya.
4. Menggunakan berbagai sumber daya yang tersedia (tenaga kerja, modal, bahan, dan teknologi).
5. Untuk mendapatkan manfaat dan keuntungan yang sesuai sebagaimana yang direncanakan.
Pengertian Studi Kelayakan Usaha
Usaha yang akan dijalankan diharapkan dapat memberikan penghasilan sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Pencapaian tujuan usaha harus memenuhi beberapa kriteria kelayakan usaha. Artinya, jika diihat dari segi bisnis, suatu usaha sebelum dijalankan harus dinilai pantas atau tidak untuk dijalankan. Pantas artinya layak atau akan memberikan keuntungan dan manfaat yang maksimal.
Agar tujuan perusahaan dapat tercapai sesuai keinginan, apapun tujuan perusahaan (baik profit, sosial, maupun gabungan dari keduanya), apabila ingin melakukan investasi, terlebih dahulu hendaknya dilakukan sebuah studi. Tujuannya adalah untuk menilai apakah investasi yang akan ditanamkan layak atau tidak untuk dijalankan (dalam arti sesuai dengan tujuan perusahaan) atau dengan kata lain, jika usaha tersebut dijalankan, akan memberikan manfaat atau tidak. Untuk itu suatu usaha perlu melakukan suatu studi kelayakan usaha, yaitu suatu kegiatan yang mempelajari secara mendalam tentang suatu kegiatan, usaha atau bisnis yang akan dijalankan dalam rangka menentukan layak atau tidak suatu usaha tersebut dijalankan.
Dari pengertian tersebut, maka studi kelayakan usaha merupakan kegiatan untuk mempelajarisecara mendalam, artinya meneliti secara sungguh-sungguh data dan informasi yang ada, yang kemudian mengukur, menghitung dan menganalisis hasil penelitian tersebut dengan menggunakan metode-metode tertentu. Dan penelitian yang dilakukan terhadap usaha yang akan dijalankan menggunakan ukuran tertentu, sehingga diperoleh hasil yang maksimal.
Istilah kelayakan mengandung arti, bahwa penelitian yang dilakukan secara mendalam dengan tujuan untuk menentukan apakah usaha yang dijalankan akan memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan dengan biaya yang akan dikeluarkan. Dengan kata lain, kelayakan dapat berarti bahwa usaha yang dijalankan akan memberikan keuntungan finansial dan nonfinansial sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Lebih lanjut, istilah layak juga berarti bahwa suatu usaha juga dapat memberikan keuntungan tidak hanya bagi perusahaan yang menjalankan, tetapi juga bagi investor, kreditor, pemerintah dan masyarakat luas.
Studi kelayakan usaha didefinisikan sebagai suatu pengkajian secara sistematis terhadap gagasan atau rencana usaha, baik usaha baru atau pengembangan usaha yang sudah ada, dari berbagai aspek yang dapat mempengaruhi keberhasilan usaha tersebut.
Tujuan dilakukan studi kelayakan usaha atau evaluasi proyek ialah untuk membantu para pengusaha, manajer, pengurus dan anggota koperasi, para pemilik modal dan pemerintah di dalam menentukan apakah suatu usaha layak untuk dijalankan (dibiayai) atau tidak. Kegunaannya adalah untuk mengetahui apakah proyek di masa yang akan datang mempunyai manfaat dan menguntungkan dilihat dari segi komersialnya. Hal ini dapat dilakukan mengingat:
• Pengeluaran modal besar
• Berjangka waktu panjang
• Memiliki komitmen antara pemilik usaha dengan pemilik dana
• Memiliki dampak terhadap lingkungannya
Dengan demikian dalam suatu studi kelayakan usaha akan menyangkut tiga aspek, yaitu:
1. Manfaat ekonomis usaha tersebut bagi usaha itu sendiri (sering disebut sebagai manfaat finansial). Yang berarti apakah usaha tersebut dipandang cukup menguntungkan apabila dibandingkan dengan risiko usaha tersebut.
2. Manfaat ekonomis usaha tersebut bagi Negara tempat usaha itu dilaksanakan (sering disebut sebagai manfaat ekonomi nasional). Yang menunjukkan manfaat usaha tersebut bagi ekonomi makro suatu negara.
3. Manfaat sosial usaha tersebut bagi masyarakat di sekitar lokasi usaha.
Beberapa faktor yang mempengaruhi kedalaman (intensitas) evaluasi proyek atau dikelayakan proyek diantaranya adalah:
1) Besarnya dana yang ditanamkan
Umumnya semakin besar dana yang ditanamkan, semakin mendalam studi yang dilakukan.
2) Tingkat ketidakpastian proyek
Semakin sulit memperkirakan penghasilan penjualan, biaya, aliran kas, dan lain-lain, maka semakin berhati-hati melakukan studi kelayakan.
3) Rancangan studi kelayakan usaha
Pembuatan studi kelayakan usaha (feasibility study) merupakan salah satu tahap dari serangkaian tahap yang tercakup dalam implementasi suatu perencanaan usaha. Untuk itu perlu terlebih dahulu diketahui tahapan perencanaan suatu usaha.
B. Tujuan Studi Kelayakan Usaha
Ada lima tujuan, pentingnya melakukan studi kelayakan usaha:
1. Menghindari risiko kerugian
Studi kelayakan bertujuan untuk menghindari risiko kerugian keuangan di masa datang yang penuh ketidakpastian. Kondisi ini ada yang dapat diramalkan akan terjadi atau terjadi tanpa dapat diramalkan. Dalam hal ini fungsi studi kelayakan adalah untuk meminimalkan risiko yang tidak diinginkan, baik risiko yang dapat dikendalikan maupun yang tidak dapat dikendalikan.
2. Memudahkan perencanaan
Ramalan tentang apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, dapat mempermudah dalam melakukan perencanaan. Perencanaan tersebut, meliputi:
• Berapa jumlah dana yang diperlukan
• Kapan usaha akan dijalankan
• Di mana lokasi usaha akan dibangun
• Siapa yang akan melaksanakan
• Bagaimana cara melaksanakannya
• Berapa besar keuntungan yang akan diperoleh
• Bagaimana cara mengawasinya jika terjadi penyimpangan
Dengan adanya perencanaan yang baik, maka suatu usaha akan mempunyai jadwal pelaksanaan usaha, mulai dari usaha dijalankan sampai pada waktu tertentu.
3. Memudahkan pelaksanaan pekerjaan
Berbagai rencana yang sudah disusun akan memudahkan dalam pelaksanaan usaha. Rencana yang sudah disusun akan dijadikan acuan dalam mengerjakan setiap tahap usaha, sehingga suatu pekerjaan dapat dilakukan secara sistematis dan dapat tepat sasaran serta sesuai rencana.
4. Memudahkan pengawasan
Pelaksanaan usaha yang sesuai rencana akan memudahkan untuk melakukan pengawasan terhadap jalannya uasaha. Pengawasan ini perlu dilakukan agar tidak terjadi penyimpangan dari rencana yang telah disusun. Di samping itu, pelaksanaan usaha dapat dilakukan secara sungguh-sungguh, karena ada yang mengawasi.
5. Memudahkan pengendalian
Adanya pengawasan dalam pelaksanaan pekerjaan dapat terdeteksi terjadinya suatu penyimpangan, sehingga dapat dilakukan pengendalian atas penyimpangan tersebut. Tujuan dari pengendalian ini adalah untuk mengendalikan pelaksanaan pekerjaan yang melenceng, sehingga tujuan perusahaan akan tercapai.
C. Pihak-pihak yang Berkepentingan
Perusahaan yang melakukan studi kelayakan usaha akan mempertanggungjawabkan
hasilnya kepada berbagai pihak yang berkepentingan, yaitu:
1. Investor
Jika hasil studi kelayakan yang telah dibuat ternyata layak untuk direalisasikan, pendanaan dapat mulai dicari dengan mencari investor atau pemilik modal yang mau menanamkan modalnya. Bagi investor, hasil studi kelayakan memiliki arti tersendiri, karena investor akan mempelajari laporan tersebut untuk memastikan keuntungan yang akan diperoleh serta jaminan keselamatan atas modal yang akan ditanamkannya.
2. Lembaga keuangan
Jika modal perusahaan berasal dari dana pinjaman bank atau lembaga keuangan lainnya, maka lembaga-lembaga tersebut akan berkepentingan terhadap hasil studi kelayakan. Bank dan lembaga keuangan lainnya tidak mau memberi kredit atau pinjaman, bila suatu usaha tersebut di kemudian hari mempunyai masalah (kredit macet). Oleh karena itu, untuk usaha-usaha tertentu pihak perbankan akan melakukan studi kelayakan terlebih dahulu secara mendalam sebelum pinjaman dikucurkan kepada pihak peminjam.
3. Pemerintah
Bagi pemerintah pentingnya studi kelayakan adalah untuk meyakinkan apakah usaha yang dijalankan akan memberikan manfaat, baik bagi perekonomian secara umum maupun gaji masyarakat luas, seperti penyediaan lapangan pekerjaan. Pemerintah juga berharap usaha yang akan dijalankan tidak merusak lingkungan sekitarnya, baik terhadap manusia dan lingkungan hidup lainnya
4. Masyarakat luas
Bagi masyarakat luas, adanya bisnis akan memberikan manfaat seperti tersedia lapangan kerja, baik bagi pekerja di sekitar likasi proyek maupun bagi masyarakat lainnya. Manfaat lain adalah terbukanya wailayah tersebut dari ketertutupan. Dengan adanya usaha akan memancing munculnya sarana dan prasarana bagi masyarakat.
D. Tahap Perencanaan Usaha
Untuk melakukan suatu usaha biasanya tidak langsung jadi begitu saja, tetapi melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:
1. Tahapan Identifikasi
Pendirian suatu usaha biasanya diawali dengan sebuah ide. Ide usaha yang baik harus didasarkan pada pemikiran yang logis tentang adanya peluang usaha. Peluang usaha bisa timbul dari berbagai sumber atau sebab antara lain:
• Adanya kecenderungan impor komoditi
• Adanya bahan baku yang melimpah
• Adanya keterampilan tenaga kerja tertentu
• Adanya saran atau pendapat ahli, dan lain-lain
2. Tahap Seleksi Pendahuluan
Pada tahap identifikasi akan dihasilkan sejumlah alternatif usaha. Dari sejumlah alternatif usaha yang ada selanjutnya dilakukan penilaian pendahuluan untuk menentukan usaha-usaha yang paling mungkin dilakukan. Di dalam hal ini sudah mempertimbangkan faktor-faktor yang mungkin menjadi penghambat dan pendukung dipilihnya suatu usaha, hal-hal yang menjadi pertimbangan antara lain:
a. Sejumlah modal dan sumber modal yang diperlukan
b. Kesediaan bahan baku dalam arti kualitas, kuantitas dan kontinuitas
c. Ketersediaan tenaga ahli
d. Prospek pemasaran produk yang dihasilkan
3. Tahap Pengkajian atau Studi Kelayakan Usaha
Tahap ini merupakan penilaian secara lebih mendalam terhadap beberapa aspek suatu usaha yang berhasil terpilih pada tahap seleksi pendahuluan. Aspek-aspek yang perlu dipelajari dalam hal ini adalah aspek pasar, aspek yuridis, aspek teknik, aspek finansial dan aspek ekonomi.
4. Tahap Penilaian (appraisal)
Pada tahap ini dilakukan penilaian kembali tentang aspek-aspek yang dianalisa pada tahap studi kelayakan. Suatu usaha dikatakan layak untuk dapat dibiayai bila memenuhi criteria sebagai berikut:
a. Kelayakan Ekonomis
Yaitu bila proyek secara perhitungan ekonomis mempunyai kemampuan dan peluang untuk dapat dikembangkan:
• Barang/jasa yang ditawarkan mempunyai peluang dan kemampuan untuk dapat dipasarkan sedangkan di lain pihak pasar yang ada atau tidak aka nada atau belum jenuh untuk jangka waktu yang cukup lama (minimum selama jangka waktu pinjaman atau pengembalian modal).
• Barang atau jasa diperdagangkan atau mempunyai nilai ekonomis yang cukup berarti sehingga dibutuhkan oleh seluruh atau sebagian masyarakat selaku konsumen.
b. Kelayakan Teknis
Dari segi teknis-teknologi usaha tersebut dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana besaran usaha (volume barang/jasa yang dipasarkan sesuai dengan skala ekonomis yang direncanakan)
• Tersedia bahan baku dan bahan pembantu
• Tersedia tenaga pekerja yang dibutuhkan sesuai dengan tingkat teknologi yang akan dipakai
• Tersedia mesin dan peralatan yang sesuai dengan tingkat teknologi yang akan dipakai dan skala ekonomis yang akan dicapai
• Adanya tempat atau lokasi usaha yang sesuai dengan kebutuhan ekonomis dan teknis udara (pasar, sumber daya alam)
c. Kelayakan Hukum
Proyek mendapat jaminan serta dukungan hokum dalam pelaksanaannya atau tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku.
• Barang/jasa yang diperdagangkan tidak dilarang/merugikan masyarakat luas
• Lokasi yang direncanakan tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku
• Teknologi yang akan diterapkan sesuai/tidak membahayakan atau merugikan masyarakat dan lingkungan sekitarnya
d. Kelayakan Manajemen
Secara umum manajemen diartikan sebagai sekelompok orang yang diberi tanggung jawab untuk melaksanakan perusahaan. Untuk menunjang keberhasilan usaha, unsur-unsur yang harus diperhatikan dalam aspek manajemen adalah sebagai berikut:
• Kualifikasi manajemen yang sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan proyek (pengalaman, kemampuan, dan keterampilan)
• Adanya dukungan tenaga terampil yang sesuai dengan kebutuhan
• Mudah/tidaknya untuk mendapatkan tenaga kerjayang diperlukan serta pengembangannya (pendidikan dan latihan)
e. Kelayakan Finansial
Secara perhitungan financial pelaksanaan suatu usaha diperkirakan dapat menghasilkan suatu keuntungan bagi pemilik modal sesuai dengan yang diharapkan.
• Perhitungan atas dasar perencanaan laba, tingkat rentabilitas usaha (ROI), rentabilitas usaha sendiri (ROE), berhitungan nilai usaha bersih (NPV), manfaat dan biaya (B/C), perhitungan IRR menunjukkan hasil yang diharapkan.
• Perhitungan perencanaan likuiditas serta proyeksi perputaran dana dan neraca memberikan gambaran yang positif.
5. Tahap Pelaksanaan
Tahap ini merupakan tahap akhir dalam penyusunan suatu rencana usaha, yaitu mengimplementasikan segala sesuatu yang telah dirumuskan dalam rencana usaha.
6. Tahap Evaluasi
Pada tahapan ini dilakukan penilaian terhadap keberhasilan atau kegagalan usaha yang sedang atau sudah dijalankan. Hasil evaluasi akan menjadi masukan berharga bagi para pengusaha, pemilik modal dan pemerintah di dalam memilih usaha yang sejenis di masa yang akan datang.
E. Aspek-aspek yang Dipelajari dalam Studi Kelayakan Usaha
Secara lebih spesifik dan sistematis aspek-aspek yang dipelajari dalam studi kelayakan usaha adalah aspek pasar, aspek yuridis, manajemen, teknik, finansial, dan sosial. Kelengkapan aspek-aspek tersebut tergantung pada kepentingannya. Hal yang menjadi pertimbangan biasanya adalah:
1. Besar kecilnya dana yang terlibat dalam rencana usaha tersebut.
2. Tingkat ketidakpastian yang dihadapi usaha tersebut.
3. Kompleksitas faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha tersebut.
F. Pra Studi Kelayakan
Tahapan pra studi kelayakan dapat dilaksanakan sebelum melakukan studi kelayakan usaha. Aspek yang dianalisis meliputi 4 (empat) hal utama:
1. Aspek Pemasaran
Dalam mengadakan identifikasi awal di bedang pemasaran harus tepat karena dala praktek sering ditemui perbedaan persepsi antara apa yang dilakukan konsumen dengan desain dalam studi.
2. Aspek Teknis Teknologis
Penilaian dari aspek teknis teknologis atau sering disebut sebagai aspek produksi adalah untuk mempertimbangkan apakah proyek dapat dilaksanakan dilihat dari segi teknis.
3. Aspek Manajemen
a. Penilaian pengurus
• Kualifikasi pengurus
• Kemampuan manajerial
• Pengalaman di bidang yang diperlukan
• Latar belakang pendidikan
• Motivasi dan kultur kerja
b. Struktur organisasi
Agar efektif dalam pengelolaan struktur organisasi harus sesuai dengan besar kecilnya skala usaha.
c. Rekrut dan seleksi tenaga kerja
Sistem rekrut dan seleksi tenaga kerja agar dapat diperoleh tenaga kerja yang sesuai dengan kualifikasi yang diperlukan.
4. Aspek Keuangan
Penilaian dari aspek keuangan adalah merupakan hasil dari penilaian aspek-aspek terdahulu (aspek pemasaran, teknik, teknologi dan aspek manajerial). Tujuannya adalah untuk menilai kembali kelayak serta implikasinya dari segi keuangan setelah keseluruhan aspek dijabarkan dalam nilai uang.
G. Teknik Melakukan Studi Kelayakan Usaha
Secara umum terdapat empat tahapan kegiatan dalam melakukan studi kelayakan usaha, yaitu:
1. Pembentukan panitia kerja
Jika diperhatikan aspek-aspek yang perlu dikaji, maka tim kerja studi kelayakan usaha memerlukan usaha paling sedikit terdiri atas tim teknis dan tim sosial ekonomi. Tim teknis harus menguasai segala sesuatu yang berkaitan dengan aspek teknis. Hal ini tergantung pada jenis usaha apa yang akan dilakukan. Tim sosial perlu mengetahui aspek-aspek yuridis, organisasi dan manajemen, aspek pemasaran, aspek financial dan aspek ekonomi.
Semakin lengkap suatu tim kerja, semakin baik. Namun demikian perlu diperhatikan efektifitas dan efisiensi kerja. Untuk itu perlu memperhatikan hal-hal berikut:
a. Kelengkapan tim kerja yang ahli di bidang masing-masing
b. Keseimbangan tim antar bidang keahlian
c. Kejelasan tugas dan tanggung jawab setiap anggota tim
d. Kejelasan jadwal kerja
e. Mempertimbangkan jumlah dana yang tersedia
2. Pengumpilan data dan informasi
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengumpulan data dan informasi adalah sebagai berikut:
a. Kelengkapan data dan informasi untuk setiap aspek yang akan dikaji.
b. Relevansi data dengan aspek yang akan dikaji (banyak data/informasi yang terkumpul tetapi tidak relevan dan atau tidak berguna).
c. Validitas data/informasi. Hal ini ditentukan oleh benar tidaknya dalam memilih sumber data/informasi, metode pengukuran data dan metode penarikan contoh/sampel data jika diperlukan.
3. Analisis data dan informasi
Setelah data dan informasi yang memadai telah terkumpul dengan baik, langkah selanjutnya adalah pengolahan dan menganalisis data/informasi tersebut untuk mengetahui kelayakan usaha dari setiap aspek. Analisis tersebut meliputi:
a. Analisis Aspek Pasar
Aspek ini mendahului aspek-aspek yang lain, karena di dalam merencanakan usaha yang perlu dipikirkan pertama kali adalah produk apa yang diminta pasar dan dalam jumlah berapa. Akhir dari analisis pasar yang terpenting adalah menentukan jumlah produk yang mampu diserap oleh pasar. Kegagalan suatu kegiatan usaha seringkali berawal dari gagalnya mengestimasi pasar produk usaha tersebut. Untuk itu ada beberapa indicator penting yang harus diperhatikan, di antaranya:
1) Mempelajari kondisi pemasaran yang lalu dan sekarang yaitu dengan mengetahui:
a) Bagaimana perkembangan jumlah penawaran dsn permintaan yang akan dihasilkan.
b) Bagaimana perkembangan harga produk selama ini, misalkan selama 2-3 tahun terakhir.
c) Siapa saja produsen utama produk tersebut.
d) Bagaimana jalur pemasaran produk tersebut.
2) Mengestimasi pemasaran di masa yang akan datang, meliputi:
a) Proyeksi jumlah permintaan dan penawaran produk yang akan dihasilkan.
b) Proyeksi jumlah produk yang akan dipasarkan.
c) Kebijaksanaan pemasaran produk yang akan dihasilkan, meliputi pada tingkat harga berapa produk akan dijual, mutu produk yang akan dijual, kepada siapa produk tersebut akan dijual dan dengan jalur pemasaran yang bagaimana.
Beberapa hal lain yang perlu dilihat dalam analisis pemasaran adalah:
1) Posisi produk (product positioning) yaitu bagaimana posisi produk di pasar:
a) Apakah banyak barang sejenis atau barang pengganti.
b) Apakah barang/jasa mudah ditiru oleh produsen lainnya.
c) Apakah barang/jasa digunakan sehari-hari atau untuk keperluan teknis.
2) Identifikasi harga
a) Siapa yang berperan dalam menentukan harga, pembeli-penjual-pasar.
b) Bagaimana dengan harga jual dari produk sejenis atau barang pengganti.
c) Bagaimana dengan kebijakan harga dari produsen lain.
3) Identifikasi pola distribusi
a) Luas area pemasaran produksi (local, antarpropinsi, antar pulau).
b) Siapa yang melakukan distribusi barang (agen sendiri atau perusahaan distributor milik orang lain).
c) Bagaimana mata rantai distribusi mulai dari produsen sampai dengan konsumen akhir.
4) Identifikasi pola promosi
a) Bagaimana sistem promosi yang digunakan oleh produsen lain barang sejenis atau pengganti.
b) Media promosi yang tepat.
5) Identifikasi konsumen
a) Golongan pendapatan konsumen (rendah, menengah, tinggi).
b) Golongan umur konsumen (anak-anak, remaja, dewasa, oaring tua).
c) Penyebaran dan area konsumen (kota, desa).
d) Kebiasaan dan perilaku konsumen (consumer’s behavior)
6) Identifikasi pasar
a) Pasar pembeli (buyer market) atau pasar penjual (seller market).
b) Posisi pasar berdasarkan kekuatan pembeli atau penjual.
c) Berdasarkan elastisitas pasar (elastis, semi elastis atau inelastis).
b. Analisis Aspek Yuridis
Aspek ini berkaitan dengan kelayakan usaha dari sisi hokum. Yang menjadi pertanyaan adalah seberapa jauh usaha yang direncanakan mempunyai kekuatan atau dibenarkan secara hukum baik dari segi kelembagaan usaha atau kegiatan usaha itu sendiri.
Di bidang kegiatan usaha yang direncanakan antara lain perlu kejelasan tentang status hukum barang yang dihasilkan, status hukum modal dan pemilik modal, status hukum yang menjadi rekaman usaha, hak cipta dan lainnya.
c. Analisis Aspek Manajemen
Suatu kegiatan usaha akan memerlukan perangkat organisasi, mulai dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks. Untuk itu, perlu diketahui bentuk pengelolaan usaha yang dipilih siapa yang menjadi pengelola usaha, kejelasan batas-batas wewenang dan tanggung jawab setiap pihak yang terlibat dalam pengelolaan usaha.
Aspek manajemen juga mengkaji tenaga manajemen yang diperlukan, berapa dan dalam kualifikasi apa. Untuk menjalankan suatu usaha tertentu dibentuk suatu kualifikasi tenaga yang tertentu pula. Oleh karena itu jauh sebelumnya perlu diketahui apakah kualifikasi yang diperlukan tersedia atau tidak.
d. Analisis Aspek Teknis
Analisis aspek teknis sangat diperlukan oleh spesifikasi usaha. Istilah aspek teknis sebenarnya lebih cocok untuk kegiatan usaha yang menghasilkan produk atau mengolah hasil yang memerlukan proses produksi secara teknis. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam aspek teknis ini diantaranya:
1) Lokasi Usaha
Yang perlu dijabarkan mengenai lokasi usaha meliputi letak geografis dari tempat usaha (dekat dengan pasar/konsumen dan atau dekat dengan factor produksi), kondisi iklim, dan kondisi tanah.
2) Teknologi
Ada beberapa jenis teknologi yaitu teknologi maju (advanced technology), teknologi madya (intermediate technology), teknologi sederhana (simple technology) dan teknologi tradisional. Aspek teknologi ini penting untuk dijabarkan karena akan sangat berpengaruh terhadap kwantitas dan kwalitas hasil produksi.
3) Alat produksi
Perlu juga diperhatikan ragam dari alat produksi yang akan digunakan.
4) Proses produksi
Berdasarkan kontinuitas proses produksi, dikenal proses produksi yang terputus, kontinu dan proses produksi gabungan dari keduanya.
5) Sarana produksi atau bahan baku dan tenaga kerja
Membahas bagaimana kemudahan dalam memperoleh bahan baku, air, tenaga kerja, listrik, telepon, sarana dan prasarana angkutan dan kemudahan-kemudahan lainnya. Berapa kebutuhan tenaga kerja yang diperlukan untuk melakukan setiap tahap dalam proses produksi.
6) Produksi itu sendiri
Beberapa komponen produksi yang menentukan besar kecilnya usaha yaitu:
• Volume bahan baku yang akan digunakan
• Jenis dan jumlah peralatan/mesin yang digunakan
• Jumlah tenaga kerja
• Besar sumber daya energy yang digunakan untuk menggerakkan peralatan/mesin
Berkenaan dengan kegiatan perdagangan, aspek fisik yang perlu dibahas didalam hal ini antara lain:
a) Penentuan lokasi usaha. Beberapa orientasi dalam penilaian lokasi diantaranya:
 Lokasi yang berorientasi pada bahan baku
 Lokasi yang berorientasi pada pasar (lebih mendekati konsumen)
 Lokasi yang berorientasi pada kemudahan yang tersedia
b) Rincian kebutuhan bangunan dan peralatan
c) Proses pengadaan barang dari pemasok
d) Pengelompokan barang dagangan menurut perputaran barang
e. Analisis Aspek Finansial
Secara garis besarnya tujuan analisis keuangan meliputi:
Tujuan likuiditas
• Kemampuan proyek melakukan kewajiban-kewajiban yang telah jatuh tempo
• Tersedianya alat-alat likuid yang cukup
• Untuk mengadakan modal kerja (cash budget)
Tujuan pencapaian laba
• Kemampuan proyek untuk mendapatkan laba yang direncanakan atau diharapkan
• Pemilihan dari berbagai alternatif yang terbaik berdasarkan kriteria investasi
• Untuk mengadakan modal tetap (capital budget)
Ruang lingkup penilaian dari aspek keuangan meliputi:
1) Perhitungan kebutuhan modal kerja dan kebutuhan modal tetap (investasi)
Perhitungan kebutuhan modal kerja dapat menggunakan 2 metode pendekatan
a) Pendekatan Neraca
 Jumlah kebutuhan kas atau bank
 Persediaan barang dan bahan
 Piutang
b) Pendekatan biaya atau pengeluaran
 Biaya produksi (bahan baku, upah tenaga kerja langsung, bahan pembantu, dan bahan bakar)
 Biaya penjualan (pengepakan, angkutan, biaya distribusi)
 Biaya umum dan administrasi (biaya kantor, gaji pegawai, pemeliharaan)
c) Perhitungan modal tetap
 Pembelian tanah untuk lokasi proyek
 Bangunan yang diperlukan (pabrik, kantor, ruang pamer)
 Pembelian mesin-mesin dan peralatan yang diperlukan
 Pembelian alat angkutan dan kendaraan
 Biaya pendahuluan (initial cost)
2) Perhitungan pembiayaan dana sendiri dan kebutuhan kredit
a) Kemampuan untuk mengadakan dana sendiri (equiri) dalam membiayai sebagian dari kebutuhan dana baik berupa dana tunai maupun harta yang akan digunakan untuk proyek (tanah, bangunan, mesin, kendaraan)
b) Kredit yang diperlukan:
 Kredit supplier (untuk bahan-bahan)
 Sewa/beli leasing (untuk bahan modal, mesin peralatan, gedung)
 Kredit perbankan (jangka pendek, menengah, dan panjang)
3) Proyeksi penjualan dan pendapatan
 Proyeksi penjualan atau pendapatan dari kegiatan utama (main product)
 Proyeksi penjualan atau pendapatan dari hasil sampingan (by product)
4) Proyeksi daftar laba rugi
Proyeksi (rencana) laba rugi (projected income statement) dapat disusun berdasarkan:
 Proyeksi pendapatan/penjualan
 Proyeksi biaya produksi dan biaya operasional
 Rencana pembayaran bunga
 Cadangan penyusutan
 Proyeksi pembayaran pajak
5) Proyeksi arus kas
Secara prinsip arus kas sendiri terdiri dari komponen kas masuk, kas keluar dan surplus (defisit). Kegunaan dari penyusunan arus kas adalah untuk mengetahui kebutuhan kredit (dari defisit), jangka waktu kredit dan kemampuan dari proyek/nasabah untuk mengembalikan pinjaman.
6) Rencana perluasan investasi dan pengembangan kredit
Jadwal rencana pembelian barang modal (investment schedule) biasanya diikuti dengan jadwal pencairan kredit (loan disbursement schedule). Dengan demikian dapat diketahui sumber dana investasi dan rencana pengembalian kredit.
H. Metode Analisis Keuangan
Metode analisis keuangan yang sering digunakan dapat dikelompokkan dalam dua metode yaitu:
1. Kelompok analisis tanpa perhitungan waktu atas nilai uang (time value of money) antara lain:
a. Jangka waktu pengembalian kredit (pay back of period)
b. Rentabilitas usaha (return on investment atau asset)
c. Rentabilitas modal sendiri (return of equity)
d. Rasio hutang dan pendapatan (debt/equity ratio)
e. Rasio hutang dan pendapatan (debt/service coverage)
2. Metode analisis dengan memperhitungkan nilai uang berdasarkan faktor waktu dengan memperhatikan faktor penimbang (discounted factor):
a. Perhitungan nilai sekarang bersih (net present value)
b. Rasio biaya dan manfaat (cost/benefit ratio)
c. Tingkat keuntungan financial internal (internal rate of return)
d. Tingkat keuntungan ekonomis internal (internal economic rate of return)
3. Berikut ini beberapa pengertian atas indicator dalam metode analisis keuangan:
a. Rasio laba atas investasi (ROI)
Rasio yang menunjukkan tingkat pengembalian bisnis atas seluruh investasi yang telah dilakukan.
b. Net present value (NPV)
Suatu investasi dikatakan layak jika NPV > 0 dan sebaliknya jika NPV < 0. Sedangkan jika NPV = 0 keputusan investasi tergantung pada judgement pemilik modal.
c. Internal rate of return (IRR)
IRR didefinisikan sebagai tingkat bunga yang menyebabkan NPV=0. Suatu investasi dikatakan layak jika IRR > tingkat suku bunga yang diinginkan (umumnya tingkat suku bunga/deposito di bank).
d. Break even point (Titik Pulang Pokok/Titik Impas)
BEP adalah suatu kondisi dimana perusahaan tidak memperoleh keuntungan dan juga tidak mengalami kerugian.
Rumus perhitungan BEP:
BEP (dalam kuantitas) = Biaya Tetap / (Harga Jual Produk – Biaya Variabel per unit)
BEP (dalam rupiah) = Biaya Tetap / (1 – Total Biaya Variabel / Penjualan)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar